Jumat, 15 Februari 2008

Geisha



Walau menurut banyak orang, 98% kepala laki-laki berisi uang dan seks dan 2% sisanya -cinta dan kebersamaan- ada di kepala perempuan, novel ini bukan sekadar bercerita tentang uang dan seks. Uang memang dibutuhkan dan seks memang dinikmati, tapi dalam cinta dan kebersamaan itulah Sang Hidup meletakkan sebuah arti.

(Penulis)
Sinopsis MATSUMI mungkin tidak akan menyangka kehidupannya sebagai 'putri' geisha terhempas begitu saja sejak dia meninggalkan Jepang. Terlahir sebagai anak nelayan miskin, MATSUMI harus dijual ketika usianya 13 tahun demi kelangsungan hidup keluarganya. MATSUMI akhirnya menjadi geisha yang sukses, cantik dan pintar. Sebagai geisha nomor satu di Kyoto, MATSUMI menjadi idaman setiap orang penting. Ketika Shosho (setingkat mayor Jendral/red) KOBAYASHI membawa MATSUMI ke Indonesia, hidup MATSUMI mulai berubah. Pertama ia harus merubah namanya menjadi TJOA KIM HWA dan tidak boleh mengaku bahwa ia adalah orang Jepang.

Sebab pekerjaan sebagai geisha hanya ada di Jepang, tidak boleh ada orang yang tahu bahwa orang Jepang juga melacurkan diri hingga ke Indonesia. MATSUMI benci menjadi orang Cina yang menurutnya jorok. Lalu Shosho KOBAYASHI membawa MATSUMI ke Surabaya, ke Kembang Jepun. Namun Kembang Jepun bukan seperti di Kyoto dulu. Gadis-gadis geisha di sana bukan orang Jepang, kebanyakan orang Jawa yang memang melacurkan atau terpaksa menjadi pelacur. Tidak ada gadis cantik dan pintar seperti di Kyoto dulu. Ketika Jepang masuk ke Indonesia di tahun 1942, MATSUMI pun menjadi geisha kelas satu. Tarifnya mahal dan tidak semua orang bisa menjadi pelanggannya. Semua berubah ketika MATSUMI bertemu SUJONO kuli angkut toko kain milik Babah OEN. Demi SUJONO, MATSUMI meninggalkan kehidupan gemerlapnya sebagai geisha untuk menikah dan melahirkan anak SUJONO, KAGUYA. Kehidupan ternyata tak berjalan sebagaimana yang diinginkan MATSUMI. SUJONO telah memiliki anak dan istri, SUJONO tidak bekerja sehingga semua kebutuhan SUJONO dan keluarganya juga harus ditanggung MATSUMI. Ketika Jepang kalah kehidupan makin sulit untuk MATSUMI sampai ia tega meninggalkan KAGUYA dan SUJONO. MATSUMI kembali ke Jepang. Sementara SUJONO harus menghidupi KAGUYA di tengah rong-rongan istri tuanya yang selalu berlaku jahat pada KAGUYA. Deskripsi Dalam novel ini kita belajar bahwa kita tidak boleh menilai sesorang berdasarkan apa yang kita lihat di permukaan.

Ada banyak alasan yang mendasari seseorang berbuat jahat. Seperti yang dilakukan MATSUMI ketika meninggalkan anaknya. Bukan dia yang menghendaki perpisahan itu terjadi namun keadaan kadang membuat seseorang tidak dapat memilih. Dengan seting jaman penjajahan Jepang dan situasi Surabaya kala itu kita akan dibuat menyusuri jalan Kembang Jepun, Klenteng Boen Bio dan Jalan Slompretan yang hingga kini masih ada. Lan Fang sang penulis juga mampu membuat pembaca larut dalam emosi dengan penuturan yang sederhana dan mudah dipahami.

suarasurabaya.net
Judul Buku   : Perempuan Kembang Jepun
Penulis         : Lan Fang
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku   : 284 Halaman
















Rabu, 13 Februari 2008

Soe Hok Gie: Demonstran Pejuang

ENAM belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak Gunung Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.

"Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan," kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun. Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. "Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu," lanjutnya. Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. "Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru ... perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu," begitu bunyi naskah buku kecil acara "Mengenang Seorang Demonstran", (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI (MUI).

Kasih Batu dan Cemara
DARI beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di Gunung Semeru. Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.
Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru. Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, "Simpan dan berikan kepada kepada 'kawan-kawan' batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI." Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas. Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. "Soe dan Idhan kecelakaan!" katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali. Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.
Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil."Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya," begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang. Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa Naik Gunung
Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.
Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. "Pokoknya gue akan berulang tahun di atas," katanya sambil mesam-mesem. "Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali." Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. "Keren enggak?" Tanyanya. Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.
Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.
Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan "falsafahnya" , kala mengajak seseorang mendaki gunung. "Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini," kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.
Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati. Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.
Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan ... Tides dan Wiwik 18-12-69.
Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat : Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan "site" tempat jenazah Soe dan Idhan ... kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat ... sebanyak mungkin!
Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang . Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.
Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet Tua yang Dikurung
Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: "... Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ...." Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan "Cina Kecil", memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata "sakti" filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: "Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."
Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: "Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras ... diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil ... orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur." Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang ... makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan ... Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian." (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: "Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang." Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: "Ah, Mama tidak mengerti".
Arief pun menulis kenangannya lagi: ... di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik ... dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan ... saya terbangun dari lamunan ... saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, "Gie kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.

Mimpi Seorang Mahasiswa Tua
John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari. Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: ...Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih ... kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan. Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York , sebagai berikut: ... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan .... Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan ... bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia . Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.
Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, ... Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!
Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: ... Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan ... Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris. Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: ... Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka. Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki "politisi berkartu mahasiswa". Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik Cuma Sementara
John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, "Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas." Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun ... namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental "asal bapak senang", serta "yes men", atau sudah pasrah.
Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa." Demikian tulis Maxwell.
Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi- Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.
Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul. Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973, berjudul "Pesan".

Penulis : Rudy Badil -anggota MUI-pensiunan Harian KOMPAS
Sumber : Intisari, Edisi Desember 1999

Senin, 04 Februari 2008

6 Prajurit marinir tewas

04 Februari 2008, 11:32:18,
Laporan Khusnina Sekar Segari

Keenam anggota marinir yang meninggal saat latihan di Pantai Bandongan, Asembagus, Situbondo, Minggu (03/02) kemarin, sudah dibawa ke rumah duka di Jakarta. Letkol Laut TONI SYAIFUL Kadispen Komando Armada Timur (Koarmatim) pada suarasurabaya.net, Senin (04/02), mengatakan keenam korban berasal dari Pasukan Marinir II Cilandak Jakarta. Keenam korban tersebut Pratu AGUS PRIYANTO, Kopda RUSLI HARI, Serda HADI SUTRISNO, Kopda NUGROHO PAMUNGKAS, Kopda HARIYADI, dan Praka DWI PRIYANTO. TONI mengatakan sampai saat ini penyebab tenggelamnya Panser Ampibi BTR-50 P yang tenggelam kemarin belum diketahui. Saat ini sedang diselidiki Marinir dan Markas Besar Angkatan Laut. Kata TONI sebenarnya panser tersebut masih layak digunakan. "Meski sudah tua, tetapi panser tersebut sudah di repowering. Mesinnya masih bagus," ujarnya. Seperti yang diberitakan sebelumnya, saat Latihan Besar TNI AL Armada Jaya ke 27 A Tahun 2008 di Pantai Bandongan, Asembagus, Situbondo, Panser Ampibi BTR-50 P yang berisi 15 pasukan marinir tiba-tiba tenggelam setelah meluncur dari kapal perang berjenis landing ship tank. Setelah meluncur, seharusnya Panser Ampibi bisa mengapung namun justru tenggelam. Enam anggota bisa menyelematkan diri tapi enam lainnya tenggelam bersama Panser. (kss/tin)

Rabu, 30 Januari 2008

Aku Terlahir 500 gr dan Buta



suarasurabaya.net
Judul Buku : Aku Terlahir 500 gr dan Buta Penulis :
Miyuki Inone Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tebal : 183 halaman

Beratku hanya 500 gram waktu dilahirkan. Dokter yang bekerja di rumah sakit tempatku dilahirkan bercerita bahwa ibu tidak bisa mendengarkan penjelasannya karena matanya sudah dibanjiri air mata melihatku yang begitu kecil. Kelima jariku sebesar korek api. Kepalaku sebesar telur, pinggulku sebesar jari kelingking orang dewasa. Selama 7 bulan aku dibesarkan dalam inkubator di rumah sakit. Ibu setiap hari menengokku, tidak peduli apakah saat itu sedang turun hujan atau salju, bahkan ibu tidak membawa payung. Ibu selalu mengajak bicara dan membelai kepalaku. Jika ibu memberikan jarinya, aku segera meraih dan menggenggamnya (Miyuki) Sinopsis : Miyuki berhasil merekam kejadian yang dialami ibunya saat mengandung dirinya dan kenapa dia harus memiliki berat 500 gram saat terlahir ke dunia. Mungkin bagi remaja lain seusia sama dengan Miyuki (15 tahun), akan malu mengetahui dirinya lahir di luar nikah. Tapi Miyuki bercerita apa adanya meski tidak pernah mengenal bapaknya yang meninggal sebelum sempat menikahi ibunya. Padahal saat itu pula ibunya mengandung 6 bulan. Akibat shock mendengar kematian calon suaminya, Miyuki terpaksa lahir ke dunia. “Aku tetap terbaring tak berdaya antara hidup dan mati, dengan jantung dan organ-organ dalam tubuh yang belum sempurna. Beberapa kali aku juga hampir berhenti bernafas,”cerita Miyuki menggambarkan dirinya saat itu berusia 3 hari di inkubator. Cerita terus mengalir dengan indahnya ketika Miyuki memasuki sekolah TK. Keberanian ibunya mengalir dalam darahnya untuk mencoba segala hal dan merasakan aktivitas orang normal lainnya. Belajar sepeda, ya itulah pengalaman yang menantang bagi Miyuka kecil, yang buta tapi dipaksa ibunya belajar sepeda. Berkat usaha tanpa pernah menyerah, Miyuki akhirnya berhasil naik sepeda. Kesabaran dan keberanian si ibu mendampingi Miyuki menapak kehidupan, akhirnya berbuah prestasi dan Miyuki bisa menjalani kehidupan seperti orang normal lainnya. Miyumi malah punya cita-cita yakni jadi pekerja sosial dan ingin melihat ibunya mengalirkan air mata bahagia. Deskripsi : Dari membaca buku ini, kita bisa belajar tentang sebuah semangat untuk bertahan hidup. Jangankan bagi yang memiliki tubuh normal tanpa cacat, bagi Miyuki untuk bisa menjalani kehidupan selama 15 tahun, itu sesuatu yang luar biasa. Dan itu dijalani dengan penuh perjuangan untuk bisa mensejajarkan diri dengan orang-orang normal yang berada di sekelilingnya. Bahkan dalam dirinya, sudah ditanamkan kemauan tidak ingin tertinggal dengan siapa pun. Ini terbukti banyak prestasi yang ditunjukkan Miyuki selama duduk di bangku sekolah SMP hingga SMA. Perjuangan yang cukup berat dari Miyuki tidak lepas dari peranan ibunya. Buku cerita kehidupan Miyuki ini layak dibaca oleh siapa saja. Gaya bahasa yang disampaikan cukup mudah dimengerti meski sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Semoga buku ini makin membuka mata hati kita, bahwa siapapun bisa berprestasi tanpa dibatasi ketidaksempurnaan tubuh yang kita miliki. Dan itu sudah dibuktikan Miyuki. Cerita yang disampaikan Miyuki sangat menyentuh perasaan. Tidak mengherankan kalau buku ini menjadi best seller dan dicetak ulang hingga kali ke sepuluh.

Senin, 28 Januari 2008

Perjalanan ke Palu

ENTAH kenapa aku begiu susah untuk mengawali menuliskan pengalaman perjalanan ku ke kota Palu, Sulawesi Tenggah, 21-25 Januari 2007. Bahkan, ketika masuk dalam kalimat ini, aku masih mengalami kesulitan. Entahlah kenapa. Mungkin ini semua disebabkan beberapa kejadian sebelum berangkat yang tidak membuatku nyaman.
Pertama adalah tiket yang dibelikan kantor. Awalnya, aku berangkat ke Palu Senin, 21 Januari 2007 pukul 17.00 WIB. Tapi Sabtu sore aku di telp kantor yang mengabarkan bahwa jam keberangkatan ku berubah jadi pukul 08.45 WIB. Saya pun diminta untuk ganti tiket. Sabtu sore itu juga saya ke Anta Travel untuk ganti tiket. Hujan deras yang turun tak menyurutkan niatan ku untuk ke Anta Travel, di Jalan Bengawan Surabaya. Tapi, sesampainya di sana, travel sudah tutup."Kalo Sabtu, tutup jam 1 siang mas," kata petugas penjaga di pos keamanan. Dengan penuh kekecewaan, akhirnya saya pulang.
Pertanda buruk kedua adalah, pada hari Minggu atau sehari sebelum berangkat. Minggu siang, aku kembali menggurus soal tiketku ke Bandara Juanda Surabaya. Sesampainya di bandara, ternyata petugas tiket tidak bisa melayani karena sedang libur. Ah, sial sekali aku ini.
Apakah ini sebagai pertanda buruk terhadap perjalanan LOT ku ke Palu? Ternyata dugaan ku gak meleset. Diawali dari Bandara Hasanudin Makasar, tempat saya transit sebelum melanjutkan ke Palu. Saya tiba di bandara Hasanudin Makasar ini pukul 11 siang WITA. Artinya saya harus menunggu di bandara 5 jam di Bandara. Bisa dibayangkan, 5 jam menunggu di bandara sendirian. Rupanya kesialan ku gak berhenti disitu. Pesawat yang ke Palu sedianya berangkatjam4, ternyata mengalami keterlambatan hingga jam 5 sore. Artinya, pesawat ke Palu baru berangkat jam 5 sore. Artinya lagi, saya harus menunggu 1 jam lagi. Total, 5 jam nunggu di bandara.
Akhirnya, pesawat ke Palu berangkat juga sekitarpukul 5 sore. Sekitar 45 menit perjalanan ke Palu, kunikmati betul indahnya alam ciptaan Tuhan. Aku begitu menikmatinya, hingga aku tak sadar tertidur. tahu-tahu, pesawat ku telah mendarat di Bandara mutiara Palu. Saat menunggu bagasi, muncul sosok yang blum pernah aku temui : Jafar Galunggung Bua. DIa adalah koresponden TransTV di Palu, Sulawesi Tengah. Jafar adalah sosok yang lucu, unik dan punya totalitas bekerja. Semangatnya luar biasa dalam bekerja. Aku bersyukur pernah mengenalnya dan pernah bekerjasama dengan dia.

Poligami dan Poliandri

Waktu itu lagi asiik ngbrol ama temen gue, cewek yang rencananya mau nikah bulan2 ini ...
sampe akhirnya ngomongin tentang poligami. Komentarnya memang agak nyebrang, malahan jadi ngebahas poliandri.....katanya gini nih ...
"Menurut daku, yang diperlukan oleh seorang anak bukanlah siapakah lelaki yang menyumbangkan seciprat sperma untuk membuat dirinya, tapi siapakah yang berperan sebagai sosok seorang ayah sesungguhnya dalam pertumbuhannya.

Justru dengan sistem 4 ayah 1 ibu, anak-anak diuntungkan karena lebih banyak yang melindungi mereka jika ada apa-apa. Bahkan mungkin ada baiknya jika ke-empat ayah tersebut mengatur shift kerja mereka sehingga setidaknya ada 1 ayah yang selalu berjaga di rumah setiap saat. Menjaga keluarga dari marabahaya. (Misal: Kalau ada perampok yang masuk rumah, setidaknya ada seorang lelaki dewasa yang akan melindungi ibu dan anak-anaknya)

Selain itu, 4 ayah berarti adanya 4 tulang punggung keluarga. (EMPAT saudara-saudara!!! E-M-P-A-T!! bukan 1 atau 2 atau 3, tapi EMPAT sumber pemasukan keluarga!!) Jadi secara keseluruhan, kesejahteraan keluarga menjadi lebih baik.

Biaya perawatan anakpun lebih terjamin. Jika yang 1 terkena PHK, masih ada 3 lainnya yang bekerja. Tentunya yang terkena PHK itu juga akan merasa gengsi dan malu terhadap 3 suami lainnya, sehingga ia akan berusaha mendapatkan kerja secepatnya.

Poliandri juga baik untuk mengurangi jumlah penduduk. Sebab, walaupun ada 4 pejantan yang siap membuahi, tapi pabrik anaknya cuma 1!! Jadinya ya dalam jangka panjang akan mengurangi jumlah penduduk dan anak-anak yang dibuat pun diharapkan lebih "berkualitas" ... (Ya itulah, karena biaya perawatan anak datang dari 4 sumber pemasukan) Intinya: turunkan kuantitas, naikkan kualitas!!

Kalau poligami bisa mengakibatkan persaingan di antara para istri dan anak-anaknya, poliandri mungkin bisa memberikan efek perdamaian. Sebab pada saat seorang anak tidak jelas siapa ayahnya (Pokoknya di antara 4 itu! Eh, diluar 4 itu juga bisa ding), maka para ayah akan tetap memberikan perhatian kepada si anak. Masing-masing ayah akan menganggap anak tersebut adalah anaknya. (Kalau dipoligamikan, bisa ada resiko setiap anak membangga-banggakan ibunya doang dan menjelekkan ibu dari anak yang lain)

Para ayah tersebut punya teman untuk ngobrol malam-malam, teman untuk main catur, main panco (Kalau mau juga bisa buat turnamen kecil- kecilan) ataupun main kartu (Pas 4 orang! Cocok buat maen capsa, maen mahjong juga bisa). Nonton bola di rumah pun menjadi lebih semarak!

Dengan sistem 4 suami pula para pria bisa belajar menekan rasa egoisnya dengan saling berbagi, bertoleransi dan bersabar. Ingat, Tuhan suka orang sabar. Rewelnya istri pun menjadi lebih berkurang. Bayangkan jika seorang suami punya 4 istri. Maka dalam 24 jam, akan ada 4 orang istri yang berpotensi untuk mengomel dan mengeluh di kuping suami. Tapi JIKA 4 suami 1 istri, maka rata-rata kemungkinan masing-masing suami di-rese- in istri adalah maksimal 6 jam sehari. (Dengan asumsi ngawur bahwa sang istri mengomel selama 24 jam non-stop)

Sudah menjadi pengetahuan umum pula jika umur harapan hidup pria lebih pendek. Jadi, setidaknya jika seorang suami mati, sang istri tidak akan langsung menjadi janda, masih ada 3 orang suami yang menemani. Sementara jika sang istri yang mati, maka para suami bisa memilih untuk segera kawin lagi atau menjomblo. (Point bebek di sini: Kalau seorang wanita menjadi janda, maka ia lebih sulit untuk mencari suami daripada seorang duda mencari istri)

Sekarang mari kita tinjau dari sudut seksualitas. Sudah menjadi keluhan umum di rubrik konsultasi kalau banyak wanita gagal mencapai orgasme karena suami cepat selesai atau tidur begitu saja setelah mencapai puncak. Padahal pada umumnya, wanita itu lebih lambat panas daripada pria.

Nah. dengan adanya 4 suami, maka suami-suami tersebut bisa ber- estafet ria. Jika istri lambat panas dan blum panas-panas juga, maka jangan kuatir, masih ada rekan anda yang akan meneruskan perjuangan membawa istri menuju ke puncak kenikmatan. (Menuju puncak, gemilang cahaya, mengukir cinta, SEJUTA RASA.. Kyaaaaaaa.!! )

Poliandri secara sekilas juga sesuai dengan kodrat seks manusia. Laki-laki pada umumnya hanya dapat orgasme 1 kali lalu keabisan tenaga,sementara wanita bisa orgasme berkali-kali, bahkan organ seksualnyapun tidak usah membutuhkan persiapan terlalu banyak seperti halnya laki-laki. ( Kan harus nungguin Joy-sticknya berdiri dulu.)

Jika wanita berhalangan pun (Entah apapun alasannya.), laki-laki bisa dengan mudah swalayan karena organ seksnya terbuka dan menggantung di luar tubuh. (Tidak seperti perempuan yang organnya lebih tersembunyi, jadi lebih ribet kalau mau swalayan)


Akhir kata, saya menyimpulkan (lagi-lagi) secara SEPIHAK bahwa poliandri "lebih baik" daripada poligami."

Nah loh ............Ada pepatah mengatakan ;
"Laki2 seperti botol coca cola : biar isi berceceran dimana2 yang penting botol dipulangin".
"Perempuan seperti kulkas : biarpun gak kemana2, tapi dpt menyimpan beberapa botol sekaligus di dalam nya".

Pak Harto Mangkat



Dokumentasi Harian Kompas dan Persda Network. (dari kiri ke kanan) Potret HM Soeharto dari tanggal 6 Maret 1956 sampai 5 Mei 2006. Mantan Presiden RI dan penguasa orde baru ini dinyatakan wafat pada 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan.
(FILE KOMPAS-PERSDA NETWORK/BIAN HARNANSA


Monday, 28 January 2008
JAKARTA, Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Mantan presiden kedua RI, HM Soeharto tutup usia Minggu (27/1), setelah menjalani perawatan intensif selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Pak Harto, yang lahir di Yogyakarta 8 Juni 1921, meninggal dunia tepat pukul 13.10 WIB, dalam usia belum genap 87 tahun. "Telah wafat dengan tenang bapak Haji Muhammad Soeharto pada pukul 13.10 WIB di RSPP. Semoga amal beliau diterima dan diampuni dosanya oleh Yang Maha Kuasa," ujar Dr Mardjo Soebiandono, kepala Tim Dokter Kepresidenan dalam keterangannya kepada wartawan.

Jumpa pers singkat, selama lima menit, terasa mengharukan. Mata tim dokter tampak berkaca-kaca. Pihak keluarga menangis haru. Tiga anak Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut), Siti Hediati Hariadi (Mbak Titiek) dan Sigit Harjojudanto yang ikut bersama tim dokter tampak sangat kehilangan. Tutut, Titik dan Sigit yang mengenakan baju hitam, dan mata mereka sembab.
"Asragfirullah...astagfirullah...astagfirullah.., inna lillahi wa inna illaihi roji'un," kata Tutut dengan suara terisak mengawali keterangannya.

Putri sulung Soeharto itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah menjenguk ayahnya selama di rawat di RSPP. Juga, pihak yang telah ikut memberikan bantuan doa kepada Soeharto. "Saya mewakili keluarga memohon agar semua kesalahan bapak dimaafkan. Semoga diterima semua amal baiknya dan diampuni semua dosanya," kata Tutut sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan putih.

Tim dokter yang merawat Soeharto menegaskan, wafatnya Soeharto disebabkan karena kegagalan multiorgan. Namun, beberapa dari mereka menyebut bahwa wafatnya Soeharto terjadi begitu cepat. Begitu pengakuan sejumlah dokter yang merawat Soeharto. "Saat saya meninggalkan rumah sakit pukul 23.00 WIB Sabtu (26/1) malam, kondisi Pak Harto sangat baik. Kesadaran masih bagus. Pernafasan juga bisa spontan. Beliau juga masih bisa makan," kata Dr Christian A Johannes, anggota tim dokter

Apalagi, fase sangat kritis bukanlah hal baru bagi Soeharto. Sebelumnya, Soeharto mampu melewati tiga kali fase sangat gawat. Pada Jumat, 11 Januari silam, kondisi Soeharto sangat kritis. Bahkan, kabar ia meninggal sudah beredar. Kediaman di Cendana juga bersiap-siap. Namun, kondisinya membaik. Begitu juga saat kembali mengalami fase kritis pada 13 dan 15 Januari, Soeharto mampu melewatinya dan membaik.

Namun, tubuh Soeharto tidak mampu kembali ke kondisi membaik saat menghadapi fase kritis keempat kalinya kemarin. Setelah Sabtu (26/1) pukul 23.00 WIB membaik, pada Minggu (27/1) dini hari pukul 01.00 WIB, kondisi Soeharto mendadak memburuk. Terjadi sesak nafas yang diikuti dengan tekanan darah yang terus menurun.

Tim dokter kemudian melakukan tindakan resusitasi dengan mengambilalih pernafasan 100 % dengan ventilator (alat bantuan pernafasan). Tapi, bukannya membaik, pada pukul 03.00-07 WIB, kondisi Soeharto makin menurun.
Tanda-tanda kondisi Soeharto makin gawat terlihat saat tim dokter menggelar jumpa pers pada pukul 10.00 WIB. Tim dokter menyebut kondisi Soeharto pagi itu adalah yang terburuk sejak dirawat di RSPP. Bahkan, mereka menggunakan kata “laporan khusus” untuk jumpa pers pagi itu guna menekankan kondisi gawat Soeharto itu.
"Kondisi pagi ini yang paling jelek selama beliau dirawat. Tapi, kami akan tetap berupaya maksimal. Namun, Tuhan yang menentukan," ujar Dr Mardjo.

Dan memang, dokter hanya mampu berupaya untuk melakukan tindakan pertolongan. Tuhan yang menentukan. Pukul 13.10 WIB, Soeharto berpulang, meninggalkan dunia.
"Wafatnya Pak Harto terjadi begitu cepat. Kami begitu percaya kondisinya membaik. Itu karena empat hari terakhir, masalah jantung sudah teratasi. Begitu juga dengan masalah pada organ lainnya. Dan sejak kritis dinihari tadi, tim dokter juga sudah melakukan segala upaya. Tapi, darah sudah naik ke atas (otak). Obat-obatan juga tidak bisa direspon," ujar Dr Ahmad Munawar, juga anggota tim dokter.

Kabar meninggalnya Soeharto itu kali pertama diberitahukan oleh Kapolsek Kebayoran Baru, Ricky Sandoni. Sekitar pukul 13.15 WIB, Ricky turun dari lantai 5 RSPP (tempat Soeharto dirawat) dan mengabarkan kabar duka tersebut.
Suasana di RSPP pun mendadak riuh. Polisi berjaga ketat. Satu peleton pasukan Kopassus sat 81 juga berbaris di depan RSPP.
Ratusan manusia berjubel-jubel di pintu masuk ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSPP. Selain warga sekitar RSPP, para pembesuk pasien di RSPP juga ikut berhamburan keluar. Jalanan penuh sesak. Beberapa warga tampak juga memanjat pohon di luar pagar RSPP demi melihat momen tersebut. Mereka ingin menyaksikan langsung detik-detik dimasukkannya jenazah almarhum Soeharto ke mobil ambulans untuk dibawa ke Jalan Cendana 8, Menteng, Jakarta, untuk kemudian dimandikan.

Pukul 14.35 WIB, jenazah Soeharto dimasukkan ke mobil ambulans. Dengan dikawal dua mobil patwal, juga diikuti tujuh mobil yang ditumpangi keluarga, sirine ambulans meraung dan meninggalkan RSPP.
Dalam perjalanan menuju ke Cendana, tampak sejumlah warga di pinggir jalan memberi penghormatan pada iring-iringan mobil pembawa jenazah. Namun, beberapa di antara mereka ada juga yang berujar “Itu (ambulans) Presiden Soeharto”.

Sekitar pukul 14.55 WIB, jenazah Soeharto tiba di rumah keluarga Jl. Cendana. Saat mobil jenazah berwarna biru telur masuk ke halaman rumah, sejumlah perempuan pelayat langsung menyambutnya dengan teriakan histeris. Hanya selang beberapa detik, pintu gerbang rumah langsung ditutup.
Pada pukul 21.00 WIB, pintu gerbang Cendana dibuka, dan masyarakat umum diberi kesempatan untuk melayat meski dengan seleksi cukup ketat.jbp/had/ant